Sekilas Sejarah GPIB Pancaran Kasih Depok

Rombongan pekabar Injil bersama dengan Bidang Diakonia dari GKI Kwitang Jakarta mengadakan perkunjungan ke Cimanggis.

Renungan Harian

Sabda Bina Umat

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

3 Apr 2015

Pengorbanan Yesus Lebih dari Segalanya


Hal yang menonjol dari seorang prajurit atau tentara, adalah sikap rela berkorban nyawa sekalipun membela Negara dari musuh. Pengorbanan merupakan kosenkuensi pengabdian kepada negara, dan apa yang telah di korbankan yaitu tentu tidak akan pernah sia-sia. Sebaliknya menjadi kebanggan tersendiri atau layak mendapatkan penghormatan.

Bacaan kita memberikan gambaran  tentang pengorbanan yang lebih mulia, yakni pengorbanan Sang Juruselamat di kayu salib. Pengorbanan-Nya sungguh unik. Yesus menderita dan mati " Untuk segala dosa kita dan bukan untuk dosa kita saja tetapi untuk dosa seluruh dunia" (1 Yohanes 2;2). Karna kematian dan kebangkitannya, semua orang yang menerima tawaran keselamatanNya akan memperoleh pengampunan dan kehiduppan kekal. Memang, dalam kitab Ibarani pasa 10 ini, Tidak laangsung mengangkat soal kematian atau pengorbanan Yesus di kayu sali. Tapi tentang korban dan persembahan binatan. ayat 4 menyatakan, " Sebab tidak mungkin  darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapus dosa". Artinya, bukan darah binatang yang menghapus dosa, tetapi darah Yesus. Sebab yang lebih rendah tidak dapat menggantikan yang lebih tinggi. Sebenarnya bukan korbannya yang terpenting melainkan kepercayaan dan ketaatan kepada kehendakNya (ay 5-8) . bahwa Allah mengizinkan korban yang tidak sempurna dipakai sebagai sarana pengampunan dosa, agar umatnya menyadari keseriusan dosa dan tidak "bermain-main" denganNya.

Pengorbanan Yesus di kayu salib mengekspresikan secara aktif kepada dunia belas kasihan dan kasih menjadi karakter utama Yesus. PengorbananNya juga menandakan bahwa karyanya sudah sempurna, tidak perlu lagi ada korban sebab Allah tidak hanya mengampuni namun juga tidak lagi mengingat dosa dan kesalahan manusia. Hal ini perlu kita imani.

Bacaan Alkitab: Ibrani 10: 1-7
" Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapus dosa" (ay 4)




Sumber: SBU Edisi 116


 

3 Jul 2014

Mendengar Dan Hidup Dalam Hikmat Allah




Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya
~Amsal 1:20-22



Kehidupan modern saat ini penuh dengan hiruk-pikuk yang kian meningkat. Saat berada di rumah, suara orang berbicara, riuhnya suara hewan peliharaan, suara music di radio, TV, dll. Saat berada di jalan, kita pun mendengar keriuhan lain, seperti suara kendaraan umum, proyek pembangunan, dsbnya. Di tengah hiruk-pikuk di sekitar kita, masihkah kita dapat mendengar suara hikmat Allah yang senantiasa memperingatkan manusia untuk tetap berjalan dalam kehendak-Nya?

Hikmat digambarkan sebagai seorang guru yang menghimbau orang banyak di tempat pertemuan umum, untuk belajar hikmat. Bahkan begitu pentingnya, seruan hikmat disampaikan untuk menarik perhatian manusia, dengan berdiri di tempat-tempat yang penting, seperti tepi jalan, persimpangan jalan, lapangan, dia atas tembok-tembok kota, bahkan di depan pintu gerbang kota. Jadi pada tempat umum yang ramai dikunjungi dan penuh hiruk-pkuk, inilah suara panggilan hikmat itu mengatasi semua keramaian dan kebisingan (ay.21b)


Seruan hikmat, mengajak manusia meninggalkan kebodohan dan berpaling kepada hikmat. Sebab orang yang menjalani hidup berlandaskan takut akan Tuhan, mampu membedakan yang benar dan yang salah, berpikir tepat sebelum berbicara, serta memilih dan memutuskan yang benar. Orang yang tidak berpengalaman, biasanya orang yang kurang mendapat didikan. Karena itu, mereka mempercayai setiap ucapan orang lain, mudah terpengaruh ikut bergosip dan memfitnah. Pencemooh adalah orang yang cepat bicara, lambat berpikir. Orang bebal ialah orang yang menolak didikan dan kebenaran moral. Orang-orang ini, cenderung tidak suka dididik, karena mereka justru senang terhadap ketidaktahuan mereka.


Suara hikmat acapkali memanggil, mengundang kita untuk hidup dalam hikmat Allah, ditengah kebisingan hati, keriuhan dunia. Juga di tengah kenikmatan hidup dengan mencintai ketidaktahuan, menyukai cemooh, gossip, fitnah, dsbnya, semua hal ini mempunyai konsekuensi iman di hadapan Allah.


Doa: Allah sumber hikmat, ijinkan kami berdiam dalam hikmat-Mu agar kami dapat mengatasi kebisingan dunia.

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 129
Gambar : www.timesofrefreshingontheoldpaths.wordpress.com 

21 Mei 2014

Tetap Taat Dan Bersaksi


Supaya mereka Kucoba, apakah mereka 
hidup menurut hukum-Ku atau tidak
 ~ Keluaran 16:4b

Jakarta didatangi oleh orang-orang dari berbagai daerah. Kotanya menjadi penuh sesak termasuk jalanan yang ada. Kemacetan lalu linta menjadi hal yang lumrah terjadi. Ada ungkapan yang setiap hari kita dengar, yaitu: “Kalau tidak macet bukan Jakarta” demikian pula dengan bacaan kita hari ini:”Israel selalu bersungut-sungut, kalau tidak bersungut-sungut, ya bukan Israel”. Persungutan merupakan ciri khas karakter Israel. Hal apa saja kalau menyangkut kepentingan mereka selalu terjadi persungutan. Ketika Israel tiba Mara sumber airnya pahit tidak dapat diminum, mereka bersungut-sungut kepada Musa (15:22-27). Allah membawa Israel berkemah di Elim, disana ada banyak pohon korma dan sumber air segar. Di sana tidak ada persungutan.

Dalam perjalanan di padang gurun Sin, di mana tidak ada makanan, merekapun bersungut-sungut lagi kepada Musa, Bahkan Musa terpukul oleh persungutan Israel yang menuduh Musa hendak membunuh Israel di padang gurun dengan kelaparan. Persungutan Israel harus dipahami oelh sebab mereka diperbudak selama 430 tahun, tanpa kesempatan pendidikan sehingga pikirannya tumpul dan sikapnya bebal untuk mengerti kebenaran.

Pada masa kini banyak orang diperbudak oleh dosa sehingga mata hatinya buta. Pikirannya menjadi bebal terhadap firman dan kebenaran. Hidup mementingkan diri sendiri dan bertengkar soal uang. Itu bukan saja terjadi di masyarakat tetapi juga dalam lingkungan gereja. Gereja yang harus hidup oleh iman dan anugerah Allah, telah berubah menjadi bebal demi perut.
Orang beriman banyak yang jatuh dalam pencobaan zaman, sehingga kehilangan terang dan kesaksiannya. Kita dipanggil untuk tetap taat dan memberi kesaksian bahkan ditengah pergumulan sekalipun.

Doa : Jauhkan kami dari sungut-sungut. Kuatkan kami untuk tetap taat dan menyaksikan kemuliaan-Mu.

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 129
Gambar : www.timesofrefreshingontheoldpaths.wordpress.com 

11 Mar 2014

Kasih Allah Tak Terselami



Yang kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga
~ Ayub 4:8

Sebagai ciptaan, manusia selalu diliputi oleh keterbatasan. Sehingga tidak mampu menyelami kasih dan kehendak Allah. Kasih dan kehendak Allah melampaui daya nalar logika manusia. Filsuf Pascal pernah mengatakan: "Tahapan terakhir dalam upaya penalaran ialah pengakuan bahwa masih banyak hal yang tidak terselami oleh nalar...Bila mengenai hal-hal yang alami saja banyak yang tidak terselami oleh daya nalar manusia, tentu terlebih lagi hal-hal yang supra alami". Sekalipun demikian, dalam kehendak bebas-Nya, Allah memilih manusia menjadi bentara-Nya untuk mengekspresikan kasih-Nya kepada dunia.

Ayub adalah seorang yang benar dan saleh. Kesalehan Ayub, seperti yang diakui Elifas, nyata dalam setiap tindakannya, baik kepada Allah (ay.6) maupun terhadap sesama (ay.3,4). Karena kesalehannya maka wajar jika Ayub hidup berkelimpahan berkat. Apa yang ia tabur itulah yang dituainya. Sampai disini, kisah Ayub masih ternalar oleh logika Elifas. Hal yang tidak masuk akal Elifas adalah ketika Ayub menderita. Pertanyaan Elifas : mengapa Ayub menderita ? Bukankah ia seorang yang takut akan Allah dan selalu hidup saleh ? Elifas menyimpulkan bahwa Ayub telah menabur dalam kejahatan maka sekarang ia menuai penderitaan. Elifas tidak mampu menyelami kasih dan kehendak Allah.

Kisah Ayub disuguhkan untuk mematahkan pemahaman lama orang Yahudi bahwa jika seseorang hidup benar maka ia akan diberkati Allah; sebaliknya jika ia hidup tidak benar maka ia akan dihukum Allah. Pemahaman ini juga dipegang oleh gerakan 'teologi kemakmur' (prosperity teologi) diakhir abad 20.

Kasih Allah sangat luas tak terselami oleh manusia. Hal ini nyata ketika Allah harus menjadi manusia dalam diri Yesus serta harus menderita. Benar-benar tak terselami daya nalar logiko manusia, khususnya orang Yahudi. Tetapi kita harus bersyukur karena kita dipakai Allah sebagai bentara-Nya. Dengan hikmat dari Allah kita dapat memahami kehendak Allah dalam hidup kita sehingga dalam segala keadaan kita dapat bersyukur.

Doa : Tuhan berilah kami hikmat-Mu untuk memahami akan kehendak-Mu

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 128
Gambar : www.timesofrefreshingontheoldpaths.wordpress.com 

10 Mar 2014

Tuhan Tidak Berubah



Maka kataku : "Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Maha Tinggi berubah 
~ Mazmur 77:10

Tatkala seseorang mengalami kesesakan dalam hidupnya maka dalam kepasrahannya kepada Sang Pencipta dan Pemelihara ia melakukan tindakan iman seperti berdoa dan merenung. Pada akhir perenungan, ia tiba pada pertanyaan iman; di satu sisi dapat dimaknai sebagai pengakuan akan kedaulatan dan kemahakuasaan Allah bahwa Allah sesungguhnya mampu dan sanggup melepaskannya dari kesesakannya; di sisi lain, dimaksudkan sebagai pengakuan bahwa ia begitu rapuh untuk hidup dalam kebenaran sehingga ia mengalami kesesakan, karena itu ia membutuhkan rahmat Allah.

Dalam bacaan ini, tampak pergumulan Pemazmur terkait penderitaan bangsanya. Ia bahkan mewakili bangsanya yang sedang menderita. Dalam kesesakan, ia melakukan dua hal: Pertama, mencari Tuhan dengan tak henti-henti berdoa dan berseru kepada Tuhan sambil menadahkan tangan (ay.2-5);Kedua, ia merenung dan mengingat perbuatan Tuhan di masa lampau yaitu karya keselamatan yang dikerjakan Tuhan pada awal sejarah bangsanya (ay.6). Dalam perenungannya itu Pemazmur tiba pada pertanyaan iman. Ia bertutur: apakah Tuhan telah menolaknya ? Apakah kasih setia Tuhan telah lenyap ? Dan sudah lupakan Allah kepadanya ? (ay. 8-10).

Melalui doa dan perenungan itu akhirnya pemazmur memperoleh pengertian tentang kecemasan dan kegelisahan hatinya. Bahwa semua itu terjadi bukan karena tangan kanan Tuhan yang telah melakukan keperkasaan dan menyelamatkan itu berubah, melainkan karena hatinya tertikam (ay.11) akibat ia ingin melihat Tuhan yang bertindak dan berkarya menurut pikirannya.

Tuhan Allah tidak pernah berubah (bnd. Mal. 3:6; lb 13:8). Kasih setia Tuhan bagi dunia ini sangat nyata melalui pengorbanan Anak-Nya, Yesus Kristus. Ia rela menderita untuk kita dan demi keselamatan kita. Karena itu tatkala kita dihadapkan dengan kesesakan hidup, mari datang berseru kepada Allah sambil merenungkan kebaikkan-Nya yang tidak pernah berubah.

Doa: Ya Tuhan, kami bersyukur karena Engkau tidak pernah berubah
Sumber : Sabda BIna Umat edisi 128
Gambar : Google.com

16 Feb 2014

Tuhan Sudah Lama Tahu




Demikianlah air itu menjadi sehat sampai hari ini sesuai dengan firman yang telah disampaikan Elisa

~ 2 Raja-raja 2 : 22


Berapa tahun sudah air di kota Yerikho menjadi bencana bagi penduduk kota? Ada berapa banyak pinggan baru milik penduduk sehingga ketika Elisa meminta langsung diberikan? Berapa lama sudah penduduk kota berurusan dengan garam? Pasti sudah sejak awal peradaban. Lalu berapa sulitnya membawa garam dalam sebuah pinggan baru untuk ditaburkan di sebuah mata air agar airnya menjadi normal ? Jawabnya bukan terletak pada berapa sulit, melainkan pada soal apakah orang sudah tahu dan siapa yang memberi tahu. Tuhanlah yang memberi tahu pada Elisa, apa yang harus dilakukan. Karena Tuhan yang memberi tahu, maka Tuhan membuatnya menjadi kenyataan. Yerikho tertolong.

Kita berada di era ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi sadarkah kita bahwa para peneliti dan penemu adalah orang - orang yang sangat rendah hati ? Mereka sangat sadar bahwa seluruh penelitian hanyalah untuk mengungkapkan apa yang Tuhan Allah sudah lama tahu. Tuhan Allah sudah lama tahu apa yang kita baru tahu.

Maka betapa sia-sianya orang yang sok tahu. Justru dengan merendahkan hati dan menyerahkan diri pada Tuhan, kita akan menikmati misteri pengetahuan dan kuasa ilahi. Kuasa ilahi mampu membuat apa yang di mata kita biasa, menjadi luar biasa. Seperti jumlah garam pada pinggan baru menormalkan sumber air sepanjang masa. Maka ketika hidup menjadi kalut, dan pergumulan silih berganti seperti gelombang laut, datanglah dan mengadu pada Tuhan. Kita pasti memperoleh jalan keluar dari pergumulan, dan kearifan untuk mengatasi kemelut. Tuhan lah yang akan memberikannya kepada kita. Supaya menjadi nyata bahwa apa yang kita tahu atau baru tahu, ternyata Tuhan sudah lama tahu. Terpujilah Tuhan yang Maha-tahu.

Doa : Rendahkanlah hati dan serahkanlah diri pada Tuhan.

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Gambar : Google.com

14 Feb 2014

Firman-Mu, Roti Kehidupan


Akulah TUHAN, Allahmu ...
~ Keluaran 20:2

Ayat 2 merupakan pembukaan ucapan Allah sebelum hukum Taurat disampaikan kepada umat Israel. Tujuannya supaya umat tahu siapa sebenarnya yang membebaskan mereka dari Mesir. Bukan Musa, Harun atau para tua-tua Israel. juga bukan karena pengasihan Firaun atas umat Tuhan. Dengan tegas dan jelas dikatakan Tuhan : "Akulah Tuhan Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Mesir". Ucapan ini sangat penting dalam kelangsungan hidup umat, baik dalam perjalanan selama 40 tahun maupun ketika umat ada di tanah perjanjian.

Berkat, kuasa dan kasih Allah, nyata-nyata menjadi berkat, oleh sebab itu mereka harus patuh berpegang pada firman-Nya. Mengenai ke 10 hukum Taurat ang diterima oleh Musa dari Allah (Ul.5:22) tertera pada dua loh batu. Loh batu pertama terdiri dari 4 hukum yang berkaitan dengan persekutuan manusia dengan Allah. Umat Israel dan juga seluruh umat harus mengasihi dan hormat pada Allah, itulah yang utama. Simak Mat.22:37-40. Bagaimana mungkin, seseorang mengatakan, Dia mengasihi saudaranya, kalau ia tidak mengasihi Allah terlebih dahulu, itu munafik dan bohong!

Cukup lama umat Israel hidup di Mesir. Bisa saja mereka sudah terkontaminasi pada penyembahan illah Mesir. Di samping itu, mereka harus menjadi umat yang jujur, tidak memakai nama Tuhan dengan sembrono, nama Allah jangan dipermainkan. Seperti apa yang menjadi kenyataan hidup pemimpin-pemimpin negara dan bangsa kita. Loh batu yang kedua, terdiri dari enam hukum, yang merupakan perintah Allah dan tugas kita, mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kehidupan kita selalu diberkati Tuhan, dan adalah tugas kita, mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kehidupan kita selalu diberkati Tuhan, dan adalah tugas iman kita untuk menjadi saluran berkat bagi sesama.

Doa : Firman-Mu adalah pelita pada jalan hidupku

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Gambar : THE WORD FOR THE WORLD

Kamulah Harta-ku Yang Terindah



Kamu kan menjadi bagi-Ku kerajaan imam ..~Keluaran 19:6

Dengan tepat, ditetapkan waktu dan tempat, dimana dena umat Israel yang akan meneriman hukum Taurat. Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir dan tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga. Berarti berbeda jauh dengan permohonan umat untuk beribadah di padang gurun yang kata umat, tiga hari perjalanan. Yang utama bukan lama atau tidak lama perjalanan, tapi umat Israel dipersiapkan untuk menerima hukum Taurat sebagai pegangan hidup. Di kaki gunung Sinai mereka ditetapkan sebagai "harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala" (ay.5b) dan menjadi umat yang terpilih, karena itu mereka harus mengikuti segala ketetapan Allah (ay.10-14).

Mereka tidak boleh datang dengan pakaian yang kotor. Bila dilanggar mereka dihukum mati. Tuhan memberi hukum-Nya di tempat yang gersang, di gunung yang tinggi, bukan di istana raja-raja atau tempat mewah, tidak sama sekali! Umat Israel tidak memohon untuk menjadi umat terpilih, tapi Allah memilih mereka, bangsa yang keras kepala. Dahulu mereka menderita, sekarang mereka bebas lepas dari Mesir karena ditopang oleh kasih Allah. Umat Israel harus benar-benar merenungi dalam-dalam kebesaran kasih Tuhan. Tuhan mengacungkan tangan kuasa-Nya sehingga Israel lepas dari penindasan Mesir dan selamat melewati laut Teberau yang terbelah.

Semua firman Tuhan, yang disampaikan pada Musa, diaminkan oleh umat (ay. 8). Umat Israel harus siap dan layak dihadapkan Tuhan. Mereka bukan saja umat yang terpilih, tapi harus juga menjadi panutan bagi bangsa-bangsa di sekitar. Demikian juga kita sebagai warga gereja, dipanggil dan dipilih Allah sebagai anak-anak-Nya untuk menjadi terang di tengah angkatan yang bengkok hatinya agar mereka mengenal dan mengalami kasih Allah (Filipi 2:15).

Doa : Layakkan kami jadi anak-Mu
Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127

Gambar : Google.com

13 Feb 2014

Engkaulah Batu Karang Keluputan



Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa :
"Akulah TUHAN" ~ Keluaran 6:1


Firman Tuhan berkata "Akulah Tuhan" disebabkan karena Musa berkata bahwa Allah tidak menaruh perhatian pada umat Israel. Umat Israel menghadapi pekerjaan yang lebih berat. Musa kecewa atas tugas yang dipercayakan padanya. Kesimpulannya, Musa mempersalahkan Tuhan dalam segal derita yang umat Israel rasakan (5:21).

Mendengar segala tuduhan Musa, Allah berfirman "Akulah Tuhan". "Aku adalah Aku" sumber dari segala yang tercipta, kebahagiaan yang abadi dan hidup yang kekal. Allah yang berjanji pada Abraham, Ishak dan Yakub dan akan tetap setia pada janji-Nya. Musa tidak perlu putus asa, terlebih lagi mempersalahkan Allah. Musa harus lebih memahami saat-saat Allah hadir dan berfirman kepadanya. Akulah Tuhan, El Shaddai, yang membebaskan kamu dan menebus kamu dengan tangan yang teracung, tangan yang berkuasa, menghabiskan musuh umat-Nya. Puncak dari segala janji-Nya : "Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah Aku janjikan kepada nenek moyang dan para leluhur. Berulang kali Tuhan berfirman tapi berulang kali Musa menyampaikan keluhannya. Apa belum cukup tanda-tanda ajaib yang Tuhan nyatakan?

Firman hari ini mau dengan tegas menyatakan : "Aku adalah Aku" Allah yang mahakuasa, pencipta langit dengan segala isinya, sumber berkat dan hidup kita. Dialah El Shaddai tak perlu kita takut dan bimbang. Ia beserta kita. Dia adalah batu karang keluputan dalam hidup ini, kini dan selamanya. Sebagai umat Tuhan, kita diingatkan untuk percaya dan berserah penuh pada kehendak Allah sebab kita takkan pernah mengetahui dengan sempurna apa yang dilakukan Allah bagi umat-Nya (bandingkan Pengkhotbah 3:11).

Doa : Tolong kami disaat kami lemah, Bapa.

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Gambar : Google.com

12 Feb 2014

BERJUANG TERUS



Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun.... ~Keluaran 5 : 24b

Bacaan: Keluaran  5 : 15 - 24
Dalam satu puji-pujian yang dinyanyikan oleh seorang tokoh agama dan pendeta, disyairkan demikian : “We Shall Overcome, We Shall Overcome, We Shall Overcome Someday, Deep In My Heart I Do Believe We Shall Overcome Someday (terj. bebas: kita akan melewati/atasi segala derita, dalam hati bathinku yang terdalam, saya/kita yakin kita akan melewati segala derita, satu saat). Syair lagu ini mengambarkan bagaimana Musa dan Harun melaksanakan tugas dan panggilan mereka membawa keluar umat Tuhan dari Mesir ke tanah perjanjian.

  Banyak sekali tantangan yang mereka alami. Firaun tidak mengizinkan umat Israel beribadah selama tiga hari perjalanan. Mereka dinilai sebagai bangsa pemalas. Firaun akan rugi besar kalau umat Israel keluar untuk beribadah dan tidak bekerja. Akibat permintaan ini derita umat makin berat. Bahan baku jerami harus di cari sendiri dan jumlah batu bata harus tetap. Para mandor Israel menuduh Musa dan Harun menjadi sumber malapetaka. Umat makin putus asa dan tidak percaya pada ucapan dan janji Musa. Tuhan tetap menyuruh Musa dan Harun menghadap Firaun dan menegaskan bahwa: “sekarang engkau akan melihat apa yang akan Aku lakukan pada Firaun” Tuhan tidak mau dipermainkan oleh Firaun.

  Demikian juga kita, anak-anak dan waris kerajaan-Nya, kita harus tabah dan setia mengikut Tuhan dan Raja diatas segala Raja. Musa dan Harun mendapat tugas berbicara kepada Firaun berulang-ulang sampai waktunya Tuhan menyatakan kuasa-Nya yang dahsyat. Tuhan ternyata hadir di tengah penderitaan umat-Nya dan menghendaki umat-Nya bebas beribadah. Mereka tidak boleh putus asa sebab Tuhan bersama dengan umat-Nya. “We Shall Overcome.” Kita akan mengatasi semua masalah bersama Tuhan.

Doa : (Tegarkan senantiasa iman, harap dan percaya kami).


Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
gambar : http://cramming101.blogspot.com/

Ditindas Namun Tidak Putus Asa


... Izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun ...
~Keluaran 5:3


Musa dan Harun memohon izin kepada Firaun agar umat Israel dapat beribadah mempersembahkan korban kepada TUHAN di padang gurun. Musa dan Harun, menyebut Allah Israel, karena Firaun tidak mengenal Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ibadah ini adalah yang Tuhan perintahkan, sehingga Musa dan Harun memohon dengan segala kerendahan hati agar Firaun memenuhi permohonan mereka. Dengan beribadah di padang gurun, tentu umat Israel dapat beribadah dengan tenang dan tidak mengganggu bangsa Mesir.

Permohonan Musa dan Harun ini adalah biasa. Nyatanya, justu membangkitkan amarah Firaun. "Aku tidak mengenal Allah orang Israel, saya akan rugi besar kalau batu bata tidak ada, bangsa Mesir akan merasakan akibatnya, kamu adalah manusia malas,!" demikian kira-kira ucapana Firaun. Firaun menolah permintaan Musa dan Harun, dan sebagai konsekuansinya mereka dipaksa bekerja lebih berat lagi. (ay.7-11). Umat Tuhan makin ditindas! Umat Israel hanya dipandang sebagai alat produksi dan bukan manusia merdeka yang bebas untuk dapat beribadah kepada Tuhannya. Umat Israel tidak memiliki derajat yang sama dengan bangsa Mesir. Mereka hanyalah kelas budak dan bukan majikan.

Sebagai umat Tuhan, kita diingatkan bahwa dalam situasi yang seberat dan sepahit apapun, kita harus makin kuat dan tegar. Simak baik-baik apa yang difirmankan Tuhan bagi kita dalam Roma 8:31 bahwa jika Allah di pihak kita maka kita dapat menghadapi apapun tanpa takut dan 2 Korintus 4:8 dan 9 yang menegaskan tentang pemeliharaan Tuhan yang ajaib bagi Umat-Nya. Sudah sepatutnya kita memuji Tuhan senantiasa dalam segala hal yang kita alami, termasuk jika saudara menghadapi tekanan yang berat hari-hari ini. Tuhan pasti mendengar doa saudara dan memberi kelepasan pada waktunya.

Doa : Kuatkan kami di tengah tantangan dan tekanan hidup.

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Foto : crosscard.com

11 Feb 2014

UMAT YANG PERCAYA


Lalu percayalah bangsa itu, dan ketika mereka mendengar, bahwa Tuhan telah mengindahkan orang Israel...
 ~Keluaran 4 : 31


Bacaan :  Kel  4 : 27 - 31

Dengan pengasihan dan berkat Allah, Musa diperkenankan bertemu dengan Harun saudaranya yang kelak jadi jurubicara Musa. Karena kelalaian Musa menyunat anaknya, Tuhan merencanakan membunuh Musa. Dalam situasi yang berbahaya, Zipora cepat bertindak dengan menyunat anaknya. Sejak itu Zipora menyebut Musa sebagai “pengantin darah”. Musa boleh disibukkan dengan tugasnya, tapi tugas sebagai ayah, menyunatkan anaknya adalah satu keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda.

Dalam kasih Allah, malaikat kematian undur dari Musa dan Musa tetap menunaikan tugasnya. Berbeda dengan yang dialami keluarga imam Eli. Dalam kitab 1 Samuel 2:29-34 dicatat bagaimana imam Eli lalai menegur anak-anak sehingga Tuhan menghukum Hofni dan Pinehas (1 Sam 1:3). Musa, Harun dan para tua-tua Israel membuat tanda-tanda mujizat didepan umat, barulah umat percaya bahwa Musa dan Harun menjadi utusan Allah. Saatnya akan tiba bahwa umat Tuhan akan keluar dari Mesir, didahului tanda mujizat yang Tuhan nyatakan, dalam ke 10 tulah. Tidak ada motivasi Musa dan Harun untuk mencari kehormatan diri sendiri. Masa depan yang cerah di tanah perjanjian untuk umat perjanjian, itu yang diutamakan Musa dan Harun. Walaupun tidak dapat dimungkiri, dalam perjalanan ke tanah perjanjian, sempat terjadi selisih paham, iri antara Musa dengan Miryam dan Harun (BiI. 12:2-14).

Menjadi contoh bagi kita, bila tugas dan panggilan yang Tuhan percayakan pada kita, harus dilaksanakan dengan penuh penyerahan saling mendukung dan tidak boleh ada iri. Dengan kebersamaan dan kesediaan saling menopang di antara para pelayan Tuhan, maka semua itu dapat menjadi berkat bagi jemaat Tuhan dan kesaksian yang baik tentang kasih Allah bagi manusia.

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Foto : google.com

Pergilah Dengan Selamat


.... Izinkanlah kiranya aku kembali kepada saudara-saudaraku...
~ Keluaran 4:18

Selesai sudah percakapan antara Allah dan Musa. Musa telah mengambil keputusan kembali ke Mesir, ke tengah-tengah saudara-saudaranya. Seluruh percakapan dengan Tuhan dirahasiakan Musa dari mertuanya. Pepatah Indonesia berkata : datang tampak muka, pulang tampak punggung. Musa datang dengan baik-baik dan disaat akan ke Mesir, ia pamit dengan baik. Ia pamit dari mertuanya Yitro. "Izinkan aku kembali" yang dijawab Yitro "pergilah dengan selamat". Inilah pola hidup yang berkenan pada Tuhan, tutur kata yang baik. Telah 40 tahun Musa hidup di Midian, di rumah mertuanya, satu rentang waktu yang cukup lama, Musa berterimakasih pada Allah dan mertunya.

Yitro tidak bertanya : mengapa harus pergi ke Mesir ? Tidak! Sang mertua menyadari bahwa adalah lebih baik sang anak mantu berada di tengah saudara-saudara, umat israel. Inilah sosok pribadi yang luhur dari Yitro. Ia menyadari bahwa tugas Musa sebagai suami, ayah sebagai abdi Allah adalah segala-galanya. Musa membawa Zipora istrinya serta kedua anaknya. Ia tidak bimbang, takut dan gentar, karena Musa tahu bahwa Allah ada beserta dia. Musa mau menjadi hamba yang setia. Yang harus Musa ingat bila berhadapan dengan FIraun adalah selalu membawa tongkat (menjadi ular dan keluar dari Mesir, alat yang membelah laut Teberau).

Renungan singkat ini, menuntun kita untuk tidak berdebat dengan Allah, membenarkan diri dan mengelak tugas yang Tuhan Yesus percayakan pada kita. Jika Musa dapat menerima dan melaksanakan tugasnya, maka hal yang sama dapat kita lakukan. Tuhan Yesus dengan kuasa-Nya pasti menolong kita dan tetap setia berada di sisi hidup kita sampai selama-selamanya.

Doa : Kami mau menjadi hamba-Mu yang setia
Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Foto : google.com

10 Feb 2014

Kekuatan Musik


Aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku. ~Mazmur 59:17

Di Wales, musik yang dihasilkan oleh kelompok-kelompok paduan suara kaum pria punya pengaruh yang besar pada budaya negeri itu. Sebelum Perang Dunia II, ada satu kelompok asal Wales yang bersaing secara sehat dengan sebuah kelompok serupa dari Jerman, tetapi keakraban itu berubah menjadi kebencian selama dan setelah perang berlangsung. Namun ketegangan itu pelan-pelan surut melalui pesan yang tercantum pada piala yang menjadi milik bersama kedua kelompok itu: “Bicaralah denganku, kau akan menjadi temanku. Bernyanyilah bersamaku, kau menjadi saudaraku.”

Kekuatan musik untuk memulihkan dan menolong jiwa merupakan anugerah dari Allah yang telah menghibur banyak orang. Mungkin itulah mengapa kita sangat menghayati kitab Mazmur. Dalam kitab itu, kita menemukan lirik demi lirik yang menyentuh hati kita dan yang memungkinkan kita untuk berbicara kepada Allah dari lubuk hati kita. “Aku mau menyanyikan kekuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu; sebab Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku” (Mzm. 59:17). Hebatnya, Daud menulis pujian ini ketika ia sedang dikejar-kejar oleh mereka yang ingin membunuhnya! Dalam situasi demikian, Daud tetap mengingat kuasa dan belas kasih Allah, dan bernyanyi tentang sifat-sifat Allah itu yang menguatkan dirinya untuk terus melangkah maju.

Kiranya Allah memberi kita sebuah pujian hari ini yang akan mengingatkan kita akan kebaikan dan kebesaran-Nya, apa pun yang mungkin sedang kita hadapi.

Aku bernyanyi bahagia,
Memuji Yesus selamanya;
Aku bernyanyi bahagia,
Memuji Yesus selamanya. —Crosby
(Kidung Jemaat, No. 392)
“Aku mau bernyanyi bagi Tuhan, bermazmur bagi Tuhan, Allah Israel.”
—Hakim-Hakim 5:3

Sumber: santapanrohani.org
Foto : google.com

Aku adalah Aku

Firman Allah kepada Musa : "AKU ADALAH AKU", Lagi firman-Nya : "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu : AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu" ~Keluaran 3 : 14


Tuhan Allah memperkenalkan diri kepada Musa sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub, bapa-bapa leluhur Israel. Soalnya menjadi unik ketika Musa menanyakan nama Tuhan. Sebab tiap pribadi punya nama. Di Israel nama selalu punya makna. Tuhan Allah menjawab Musa dengan mengikuti kebiasaan Israel bahwa setiap nama mempunyai makna. AKU ADALAH AKU adalah pernyataan yang luar biasa. Terjemahan bahasa inggrisnya I AM WHO I AM yang bisa kita terjemahkan sabagai AKU ADA YANG AKU ADA. Inti pernyataanya adalah bahwa sebelum ada seluruh alam semesta AKU sudah ada, dan kalau seluruh alam semesta berakhir AKU tetap ada.

Tuhan Allah memperkenalkan nama-Nya dalam makna bahwa DIA tidak berawal dan tidak berakhir. Bahwa DIA memngetahui seluruh masa lalu kita bisa diserahkan kepada-Nya untuk ditebus oleh-Nya; dan harapan-harapan kita tentang masa depan bisa kita minta daripada-Nya. Betapa berbedanya makna AKU ADALAH AKU versi Tuhan Allah, dibandingkan dengan 'aku adalah aku' versi manusia. Aku adalah aku versi manusia jauh dari makna pengampunan dan anugerah. Aku adalah aku versi manusia selalu merupakan ungkapan egoisme yang bercampur kesombongan.

Dewasa ini, banyak orang dan kelompok berlomba untuk mereklamekan diri sebagai yang terbaik dan terhebat. Kerendahan hati makin menjauh. Kita punya pengalaman tentang mereka yang mengiklankan diri sebagai yang terbaik tenyata bisa menjadi orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Maka lepaskanlah semua keangkuhan. Buanglah egoisme dan datanglah pada Tuhan. AKU ADALAH AKU adalah ungkapan jaminan penebusan dan pengampunan dosa masa lalu, sekaligus jaminan kasih dan anugerah masa depan.

Doa : Ya Tuhan jauhkanlah kami dari sifat egois dan sombong.

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Foto : google.com

9 Feb 2014

Sungguh Ajaib Kuasa Allah



Bagaimana jika mereka tidak percaya..... ~ Keluaran 4 : 1

Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Ayub adalah Allah yang penyabar. Allah telah menyatakan bahwa umat israel akan keluar dari Mesir. Itulah janji Allah kepada Musa dan Allah tidak ingkar janji. Musa sudah tenang, namun dalam ketenangannya timbul kembali kebimbangan dan pertanyaan Musa. Bisa saja umat Israel mempertanyakan, apakah benar Musa diutus Allah. Apa dan mana buktinya ? Tuhan kembali memberikan bukti, tongkat Musa akan menjadi ular. Musa diminta untuk memasukkan lengan dalam bajunya, tangan kena kusta. Tanda ajaib ketiga kalau umat manusia belum percaya, ambir air sungai Nil, buang ke tanah, air menjadi darah. Tuhan tunjukkan kuasa-Nya pada Musa. Orang-orang berilmu dan ahli sihir tidak mampu mengalahkan kuasa Allah (Kel 7:10 dst).

Selalu timbul pertanyaan Musa pada Allah. Setiap pertanyaan dijawab Allah. Musa menerima panggilan Allah dari tengah semak belukar, untuk membawa bangsanya sendiri keluar dari Mesir. Tuhan mengutus dan menyertainya. Tuhan tidak membiarkan Musa, Harun dan arak-arakan umat Israel berjalan sendiri. Dalam percakapan di ayat 1 terlihat Musa masih enggan untuk melaksanakan tugas ini.

Barangsiapa bersedia untuk menunaikan tugas yang Tuhan percayakan akan disertai dengan kuat Kuasa-Nya. Allah memberi kuasa untuk Musa melaksanakan apa yang telah Tuhan buat, Ular, sakit kusta dan air jadi darah kalau umat Israel belum percaya. Setelah kita menjalani minggu-minggu Epifania, dimana Tuhan sendiri tampil dan membuat banyak tanda ajaib. Kita harus yakin bahwa Allah di dalam Yesus Kristus akan lebih menguatkan iman, harap dan percaya pada-Nya. Ia selalu hadir dalam hari-hari kehidupan kita dengan perantara Roh Kudus, dalam tugas dan pelayanan kita.

Doa : Bapa, jangan biarkan kebimbangan menguasai kami


Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Foto : google.com

8 Feb 2014

Beriman dan Bersaksi

Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan ~Roma 10:10

Rasul Paulus menyatakan bahwa manusia dibenarkan hanya oleh iman (sola fide), bukan oleh perbuatan. Ini menarik, Apa memang cukup manusia diselamatkan hanya oleh iman ? Bukankah rata-rata orang mengatakan bahwa manusia diselamatkan oleh iman + perbuatan ? Kelihatannya menurut pandangan ini untuk masuk sorga itu mudah. Ya, asal percaya, titik! Dan memang banyak orang percaya berlaku demikian. Asal dibaptis, cukuplah....pasti selamat. Asal percaya kepada Yesus, ya selamat! Tanpa perbuatan, kan katanya kita diselamatkan hanya oleh anugerah Allah. Yang penting kita selamat. Itukah maksudnya ?

Sebenarnya bila kita perhatikan Paulus bukan sama sekali meniadakan perbuatan. Paulus mengkritik kalangan Kristen-Yahudi di Roma yang menjaminkan hidupnya pada perbuatan dan pentaatan Hukum Taurat, bukan pada iman yang terungkap dalam cinta kasih.

Lalu apakah perbuatan kita tidak punya arti sama sekali dalam rangka usaha mencapai kesalamatan ? Oh, tidak! Tidak sama sekali! Bukan itu maksudnya! Perbuatan baik memang perlu, tapi bukan untuk meraih keselamatan melainkan sebagai perwujudan iman yaitu respon atas keselamatan yang diterima. Bila manusia merasa mampu mencapai keselamatan dengan perbuatan baiknya, itu kesombongan namanya. Iman harus hidup, bertumbuh dan berbuah melalui kesaksian. Oleh karenanya Paulus berkata "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalajh Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan."

Doa : Bapa pakailah mulutku untuk menyaksikan setiap perbuatan-Mu yang dahsyat dalam hidupku tuk menguatkan sesamaku

7 Feb 2014

BUKAN KARENA USAHAMU

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini : bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman (ay. 30) ~Roma 9 : 30 - 33

  Semua agama menegaskan tentang pentingnya berbuat baik, beramal, dan mematuhi hukum untuk mendapatkan pembenaran (baca = keselamatan) terkait konsep “dibenarkan oleh perbuatan”. Hanya Alkitab saja yang mengajarkan manusia dibenarkan/ diselamatkan bukan karena perbuatannya tetapi “dibenarkan karena iman”

  Orang Yahudi berpikir melalui ketaatan yang sungguh pada hukum Taurat diperoleh pembenaran sehingga mereka berusaha untuk memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Mereka berupaya mengejar hukum (Taurat) agar dibenarkan tetapi ketidaksempurnaan mereka tidak dapat memuaskan Allah yang sempurna. Sedangkan bangsa non Israel tidak pernah mengejarnya, namun ketika mereka bertemu dengan kasih Allah dalam Yesus Kristus, dalam iman mereka menyerahkan diri pada kasih itu yang memungkin mereka beroleh keselamatan.

  Syair lagu NR 157: “Meski aku bekerja, tahan sampai berlelah, tidak cukup kuatku; hanya oleh sayang-Mu, oleh darah-Mu kudus dapat aku ditebus”, mengingatkan kita bahwa usaha apapun yang kita perbuat tidak akan mampu menyelamatkan kita dari kebinasaan. Hanya oleh belas kasih dan anugerah Allah semata kita di tebus dan diselamatkan-Nya bahkan diangkat menjadi anak-Nya.

  Kita harus fokus kepada iman yang bersumber pada Kristus. Kepada-Nya hidup kita terkait mutlak. Hidup kita pasti akan memiliki makna sejati meskipun harus melewati berbagai pergumulan dan penderitaan. Sudahkah kita hidup oleh iman kepada/di dalam Kristus saja? Jadikanlah Kristus sebagai Batu Teruji dan Batu Penjuru yang Berharga di dalam hidup kita. ltulah tandanya kita adalah umat pilihan Allah sejati.


Doa : (Ampuni aku Tuhan jika selama ini aku melakukan segala kebaikan untuk memperoleh keselamatan, kini kutahu semua usahaku tak dapat menolongku untuk selamat, hanya anugrah-Mulah yang menyelamatkanku. Trima kasih Tuhan).

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Foto : google.com

Sedang Dibentuk Tuhan


Siapkah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah ? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "mengapakah engkau membentuk aku demikian ?"
~Roma 9:20


Menjalani hidup dan tinggal di dunia yang penuh dosa bukanlah suatu hal yang mudah dijalani. Di satu sisi kita di tuntut untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan : hidup dalam kekudusan (1 Pet 1 : 15-16) dan menjauhi segala bentuk keinginan duniawi. Di sisi lain, dunia dengan segala tawaran dan tipu muslihatnya selalu dan akan terus menggoda serta berusaha menjebak kita untuk jatuh dan terjerumus dalam dosa.

Di balik semua yang terjadi dan yang kita alami, sesungguhnya Tuhan Allah sedang membentuk karakter pribadi dan iman kita. Ia ingin menjadikan kita umat kesukaan-Nya sebagai pribadi yang tangguh, pribadi yang dapat dipakai menjadi alat-Nya. Ia memproses dan menerpa kita melalui berbagai percobaan agar kita tampil sebagai anak-anak Tuhan yang militan bukan cengeng.

Memang bukan hal yang mudah dihadapi saat kita di proses dan di tempa. Terkadang secara jasmani menyakitkan. Menghadapinya tidak ada jalan lain selain menyerahkan dan mempercayakan jalan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan serta memohon hikmat dan pimpinan tangan kasih-Nya. Dengannya kita tetap kuat dan mengerti rencana dan kehendaknya di dalam hidup kita. Firman Tuhan berkata "... hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya" (Ef. 6:10), "Berbahagialah mereka yang bertahan dalam ujian, sebab mahkota kehidupan sudah menunggu mereka (Yak. 1:2), dan diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapnya hanya pada Tuhan (Yer. 17:7).

Tuhan membentuk kita dengan bermacam-macam ujian. Ia ingin memurnikan kita sehingga memiliki kualitas yang jauh lebih tinggi dari kualitas emas yang fana. Saatnya kita akan mendapat bagian pada waktu Kristus menyatakan diri-Nya.

Doa : Bapa kami yang didalam surga, kami menyerahkan seluruh kehidupan kami. Bentuklah kami seturut dengan kehendak dan rencana-Mu yang melayakkan kami menjadi anak-Mu

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Foto : google.com

6 Feb 2014

Lepaskan Kebiasaan Buruk


"Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus ? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang ?"
~ Roma 8:35


Ketika dalam sebuah ibadah Pelkat PKP di lontakan pertanyaan kepada ibu-ibu, "Adakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah ?" dengan serentak ibu-ibu menjawab "TIDAK ADA". Memang benar dan tidak salah jawaban yang diucapkan ibu-ibu itu karena jawaban itu ada dalam Roma 8:39b.

Aniaya, penindasan, kesesakan, penderitaan, kelaparan dan lain sebagainya, seperti yang Paulus katakan itu adalah pencobaan dan gumul yang datang dari luar tubuh jasmani kita. Biasanya semakin kita terdesak oleh berbagai hal tersebut, kita akan semakin rajin berdoa dan mendekat kepada Tuhan, lengket seperti amplop dan perangko. Jadi ternyata hal-hal tersebut bukan menjauhkan kita dari Allah, tetapi malah mendekatkan kita kepada Tuhan Yesus.

Namun ternyata ada hal-hal yang dapat memisahkan kita dari Kristus, yaitu diri kita sendiri. Dan bahkan ada banyak hal dalam diri kita yang memang berperan untuk memisahkan kita dari kasih Kristus.

Seringkali justru hal-hal buruk yang ada di dalam diri kita sendirilah yang memisahkan kita dari kasih Kristus. Renungkanlah hal-hal buruh dibawah ini yang mungkin kita miliki :

- Perasaan : kebimbangan, sakit hati, kecewa, kepahitan
- Pikiran : najis, cabul, hawa nafsu, zinah dan lain-lain
- Kebiasaan : malas, pesta pora, mabuk dan lain-lain
- Sifat : sombong, iri, kebencian, cemburu, ego, amarah.

Jika salah satu dari ciri-ciri ini kita biarkan terus berada dalam diri, kita tidak akan bertumbuh menjadi dewasa. Hal-hal tersebut merampas damai sejahtera dan kasih dalam diri kita sehingga lambat laun kasih kita kepada Allah akan luntur.

Mari masuki hari baru dengan tidak membiarkan hal-hal buruk, entah sadar atau tidak sengaja atau tidak ada dalam diri kita, sehingga memisahkan kita dari kasih Allah. Buang hal-hal buruk itu bukan dengan kekuatan yang kita miliki. Mintahlah Roh Kudus menolong dan memampukan kita untuk melawannya. Selamat berkarya, Tuhan memberkati.

Doa : Ya Tuhan jangan biarkan aku terus terkungkung dalam kebiasaan kebiasaan buruk yang dapat memisahkanku dari kasih-Mu

Sumber : Sabda BIna Umat edisi 127
Foto : google.com

 
Close X
Back to TOP